Belajar Matematika Ala Kafe: Serunya Kelas VIII F Bermain Peran Jadi Kasir!

Cimahi (MTsN Kota Cimahi) — Siapa bilang belajar matematika itu membosankan? Suasana berbeda terlihat di kelas VIII F MTsN Kota Cimahi pada Rabu (16/10/2025). Dibawah bimbingan Lelis Sulastri, S.Pd., selaku guru matematika, dan disupervisi oleh Yani Eka Sapitri, M.Pd., pembelajaran kali ini dikemas begitu kreatif melalui gabungan model Problem Based Learning (PBL) dan permainan peran (role playing).

Tema yang diangkat pun unik: Menjadi Kasir Kafe. Para siswa diajak untuk memahami konsep Persamaan Linier Satu Variabel (PLSV) lewat pengalaman langsung yang seru dan penuh makna.

Kegiatan dimulai dengan orientasi masalah. Lelis memperlihatkan Menu Matematika berisi daftar makanan dengan harga yang belum diketahui. Misalnya, harga Americano dilambangkan dengan a, Smoothie Berrie dengan b, dan Tenderloin dengan c. Dari sinilah petualangan seru di “kafe matematika” dimulai.

Untuk menambah semangat, ia  membagi siswa menjadi delapan kelompok melalui kuis tiga babak. Siswa yang berhasil menjawab dengan benar menjadi ketua kelompok dan berhak memilih anggota berikutnya. Cara ini membuat suasana kelas langsung hidup dan kompetitif sejak awal.

Tantangan ala Kafe

Setiap kelompok menerima pesanan pelanggan dari meja berbeda dan harus menghitung harga menu dengan menyusun serta menyelesaikan persamaan.

Berikut ronde permainannya:

  • Ronde 1: Menebak harga Americano (bentuk persamaan x + a = b)
  • Ronde 2: Menebak harga Smoothie Berrie (ax = c)
  • Ronde 3: Menebak harga Tenderloin (ax + b = c)

Setiap jawaban benar mendapatkan poin, dan kelompok yang berani mempresentasikan hasilnya di depan kelas mendapat nilai bonus. Antusiasme pun mengalir — siswa aktif berdiskusi, berdebat sehat, dan saling mendukung dalam menyelesaikan persoalan.

Di akhir kegiatan, seluruh siswa bersama-sama menyimpulkan langkah-langkah menyelesaikan PLSV berdasarkan pengalaman mereka bermain peran sebagai kasir. Konsep yang tadinya terasa abstrak kini menjadi konkret dan mudah dipahami.

Matematika Tak Lagi Menakutkan

Hasilnya sungguh menggembirakan. Kelas menjadi hidup, penuh tawa, dan kolaboratif. Siswa tidak hanya belajar rumus, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kerjasama.

Belajar matematika pun kini terasa seperti bekerja di kafe—penuh tantangan, kreativitas, dan rasa ingin tahu!

 

Kontributor: Deni Kurniawan As’ari       Fotografer: Lelis & Siswa 8F