
Cimahi (MTsN Kota Cimahi) — Lahir di Bandung pada 15 Maret 1992, Imam Khoeruddin adalah putra pertama dari tujuh bersaudara pasangan Bapak Bunyamin, S.Ag. dan Ibu Siti Rodiah. Nama lengkapnya berderet gelar—Amd. Pjk., S.Mn., BNT., C.PS., C.MC.—namun sosok sederhana ini lebih akrab disapa Kang Imam atau Kang Iko.
Kini ia mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara di Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak pada KPP Pratama Bandung Tegallega. Meski sibuk dengan pekerjaan kantor, semangat berkaryanya tidak pernah surut. Di luar jam kerja, Kang Imam aktif sebagai Master of Ceremony (MC), trainer, sekaligus pengajar di berbagai lembaga pendidikan, mulai dari universitas hingga lembaga kursus sertifikasi pajak.
Darah pendidik yang diwariskan keluarganya membuat Kang Imam juga tergerak menjadi relawan. Ia ikut dalam program Kemenkeu Mengajar, mengajar anak-anak di berbagai penjuru negeri: dari Raja Ampat dan Sorong di Papua Barat, Ambon di Maluku, Maluku Utara, hingga Pangalengan di Kabupaten Bandung. Tidak hanya itu, ia juga sempat menjadi pengajar jarak jauh di Pusdiklat Pajak, membidangi Analisis Laporan Keuangan dan Pemeriksaan Pajak sejak 2019 hingga 2021.
Perjalanan pendidikannya penuh cerita. Setelah lulus dari MI At-Taufiq Bandung (1999-2004) ia melajutkan ke MTsN Sukasari pada 2007. Berikutnya SMA Negeri 3 Cimahi hingga tamat pada 2010. Ia lalu menempuh pendidikan Diploma III Perpajakan di Politeknik Praktisi Bandung dan lulus pada 2013. Sambil kuliah, ia juga memperdalam bahasa Arab di Ma’had Lughoh Al-Imarat Bandung, meski tidak sampai selesai. Ia sempat mencoba menempuh Sarjana Akuntansi di STEI Rawamangun Jakarta, namun mutasi kerja ke Papua membuatnya harus berpindah jalur. Ia akhirnya menyelesaikan Sarjana Manajemen di Universitas Terbuka Ambon pada 2020. Menariknya, ia sempat memperoleh beasiswa S2 dari Universitas Terbuka, namun masih tertunda karena izin belajar yang belum turun.
Tak hanya akademik, Kang Imam juga membekali dirinya dengan berbagai sertifikasi. Ia menyandang gelar Bendahara Negara Tersertifikasi (BNT), Certified Public Speaker (C.PS.), dan Certified Master of Ceremony (C.MC.), serta kini tengah menempuh sertifikasi profesional di bidang perpajakan, Certified Tax Advisor (CTA).
Saat belajar di MTsN Sukasari, Imam masih sangat ingat para guru yang memberi warna dalam perjalanannya. Mulai dari Pak Dedi (Seni), Pak Dede (Qur’an Hadits), Bu Rosita (Bahasa Inggris), Ibu Rubaitun (Matematika), Bu Nenden (Bahasa Arab), hingga Ibu Yayu (Bahasa Indonesia). Bagi Imam, mereka bukan hanya pendidik, tetapi juga teladan yang terus dikenangnya hingga sekarang.`
Sebagai Ketua OSIS, Imam punya banyak cerita unik yang sampai kini masih membekas. Salah satunya saat ia dirazia oleh Pak Dede Karya Zaenudin di hari Senin gara-gara sepatu yang seharusnya hitam malah berubah abu-abu karena belel.
“Lucunya, saya dirazia padahal saya Ketua OSIS. Rasanya campur aduk, antara malu dan ingin tertawa,” kenangnya sambil tersenyum.
Kenangan lain yang masih membekas adalah saat dimarahi penjaga sekolah karena terlalu berisik saat latihan Taekwondo di hari Minggu.
Bakatnya di bidang organisasi dan kompetisi sudah terasah sejak bangku madrasah. Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika ia terpilih membacakan doa pada upacara pembukaan Jambore Nasional 2006 di Jatinangor, langsung di hadapan Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, bersama puluhan ribu peserta Pramuka dari seluruh Indonesia.
Semasa di MTsN, ia menorehkan prestasi akademik sebagai Juara Umum kelas 7 dan 8, serta Juara Umum I kelas 9. Dunia Pramuka menjadi panggung pertamanya untuk berkompetisi. Ia mewakili Kota Cimahi dalam berbagai lomba, mulai dari Lomba Tingkat IV Kwartir Daerah Jawa Barat, Jambore Daerah 2005 di Bekasi, hingga Jambore Nasional 2006 di Jatinangor. Berbagai tropi kepramukaan ia bawa pulang, baik secara personal maupun beregu, dari tingkat kota hingga provinsi.
Kemampuannya berbicara di depan publik juga membuatnya sering naik podium juara. Ia pernah meraih Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia tingkat Kota Cimahi, Juara 1 Dakwah SMA Putera tingkat Jawa Barat, Juara 2 Biantara Jawa Barat, hingga menjadi Dai School MQTV. Bahkan, ia sempat menjadi finalis lomba presenter Basa Sunda di Bandung TV.
Di bangku kuliah, semangat itu tidak pudar. Kang Imam terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Politeknik Praktisi Bandung tahun 2013 dan Alumni Favorit 2014. Dari sana, prestasi tingkat nasional pun ia raih, seperti Juara 1 Nasional Lomba Pidato Bahasa Indonesia 2020 mewakili Maluku, Juara 2 Nasional Lomba MC 2019, serta berbagai penghargaan di lingkungan Kementerian Keuangan, termasuk Juara 1 Secondment 2020, Duta Komunikasi DJP, Kemenkeu Muda, hingga menjadi Trainer Termuda Inklusi Kesadaran Pajak 2018.
Semua pencapaian ini memperlihatkan satu hal: Kang Imam adalah sosok yang tak pernah berhenti belajar dan berbagi. Ia membuktikan bahwa semangat, kerja keras, dan konsistensi mampu membawa seseorang menembus batas.
Harapan untuk Madrasah
Bagi Imam, MTsN bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang telah membentuknya menjadi pribadi seperti sekarang. Ia berharap ke depan, madrasah dapat terus berkembang, maju, dan mampu bersaing dengan sekolah lain, baik negeri maupun swasta.
“Saya ingin MTsN menjadi madrasah yang unggul, tidak hanya dalam akademik, tetapi juga nonakademik. Madrasah harus bisa mencetak generasi yang berprestasi sekaligus berkarakter,” ujarnya penuh optimisme.
Kontributor: Deni Kurniawan As’ari Fotografer: Imam Khoeruddin

