
Cimahi (MTsN Kota Cimahi) —MTs Negeri Kota Cimahi kembali menggelar Seminar Parenting bertajuk “Pergaulan Sehat, Remaja Hebat”, sebuah kegiatan yang dirancang untuk membantu orang tua memahami lebih dalam dunia remaja pada era digital yang penuh tantangan. Seminar ini diikuti oleh ratusan orang tua siswa kelas 7, 8, dan 9, berlangsung di Aula Madrasah lantai 1, Sabtu (15/11/2025).
Acara diawali dengan sambutan Ketua Panitia, Evi Hafsoh, S.Pd., yang menyampaikan bahwa kegiatan parenting ini menjadi sangat penting mengingat perubahan gaya hidup remaja yang begitu cepat.
“Madrasah tentu tidak dapat bekerja sendiri dalam membimbing siswa, sehingga sinergi antara orang tua dan madrasah merupakan kunci utama dalam menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat bagi anak-anak,” tutur staf humas tersebut.
Selanjutnya, Kepala MTsN Kota Cimahi, Rubaitun, M.Pd., memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam arahannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para orang tua yang hadir.
“Bapak dan Ibu, masa remaja merupakan fase paling rentan, sehingga diperlukan pendampingan yang bijak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter kuat. Pengalaman adalah guru paling berharga. Kita bisa belajar dari pengalaman orang tua lain yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang kuat dan sukses menjalani kehidupan yang penuh tantangan ,” ujarnya.
Materi inti seminar disampaikan oleh Novy Yulianty, S.Psi, M.Psi., Psikolog, C.Ht., yang secara runtut memaparkan kondisi terkini mengenai perilaku dan kesehatan mental remaja Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa remaja saat ini menghabiskan rata-rata tujuh hingga sembilan jam per hari menggunakan gadget, dan hampir setengahnya menunjukkan gejala kecanduan media sosial. Tidak hanya itu, satu dari tujuh remaja mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi, sementara kasus pergaulan berisiko, termasuk penyalahgunaan narkoba dan paparan pornografi, terus meningkat.
Dalam penjelasannya, Novy mengajak para orang tua memahami dunia remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri. Ia menjelaskan bahwa perubahan hormon, kebutuhan untuk diterima teman sebaya, serta pengaruh media sosial membuat emosi remaja mudah berubah dan keputusan sering diambil secara impulsif. Era digital juga membawa tantangan tersendiri, seperti perasaan takut ketinggalan informasi, kemudahan mengakses konten dewasa, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis di media sosial.
Ia menegaskan bahwa upaya mengendalikan penggunaan gadget tidak bisa dilakukan dengan cara melarang total atau menghakimi anak. Orang tua perlu menjadi pendamping yang bijaksana, bukan polisi bagi anak-anaknya. Ia mengajak orang tua membangun kesepakatan digital keluarga, memberikan contoh penggunaan gadget yang sehat, serta menyediakan alternatif kegiatan menarik agar anak tidak hanya mengandalkan dunia maya untuk mendapatkan hiburan atau validasi diri. Ia juga mengingatkan tanda-tanda kecanduan gadget yang perlu diwaspadai, seperti munculnya kemarahan saat diminta berhenti, berkurangnya interaksi sosial, gangguan tidur, hingga penurunan drastis prestasi belajar.
Tidak kalah penting, Novy memaparkan penyebab mengapa pergaulan bebas dapat terjadi pada remaja. Ia menjelaskan bahwa kurangnya kedekatan emosional dengan orang tua, rasa ingin tahu yang tidak tersalurkan melalui edukasi yang tepat, serta tekanan lingkungan sering membuat remaja mencari kasih sayang atau pengakuan di tempat yang salah.
“Ayo para orang tua untuk membangun kedekatan melalui quality time rutin, membuat ritual keluarga, mengenal dunia anak, dan menghadirkan suasana rumah yang menjadi pelabuhan aman bagi mereka. Kita jangan menghakimi ketika anak bercerita, tetapi memberikan ruang aman agar anak merasa dihargai dan dipahami,” ungkapnya.
Pada bagian akhir materi, beliau mengingatkan orang tua untuk segera berkonsultasi kepada psikolog jika melihat perubahan perilaku anak yang drastis, penurunan prestasi yang signifikan, isolasi diri, gangguan makan atau tidur, serta munculnya tanda-tanda menyakiti diri.
“Masa remaja adalah fase yang penuh tantangan, dan dukungan dari rumah adalah fondasi terkuat bagi kesehatan mental mereka,” katanya.
Seminar ini ditutup dengan sebuah pesan mendalam: “Anak tidak akan mengingat seberapa ketat aturan yang mereka terima, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana orang tua membuat mereka merasa dicintai dan dipahami.” Pesan ini mengajak semua orang tua untuk selalu menghadirkan kasih sayang, komunikasi yang sehat, dan kepercayaan dalam proses mendampingi anak menuju masa depan yang lebih cerah.
Kontributor: Deni Kurniawan As’ari Fotografer: Evi hafsoh

