Madun, Si Kecil Cabe Rawit Striker Masa Depan

Karya:  Farhan Adli Wicaksana | Siswa Kelas 7B

(Tulisan sebagai tugas siswa dari pembelajaran mapel Bahasa Indonesia yang diampu Ibu Navillah Paranita, S.Pd.)

 

Perkenalkan si kecil bernama Madun. Ia tinggal bersama kakeknya bernama Yanto yang memiliki tendangan super yang dihantu hantui oleh Johan Cruyff sang legenda sepak bola. Tendangan kakeknya  begitu kencang dan telah membawa kakeknya menjuarai Liga Posbi Soeratin, Piala Asmin dan banyak lagi.

Melihat kakeknya memiliki tendangan super, tentunya Madun juga ingin seperti itu. Apalagi kakeknya juga sering meraih juara dengan tendangan supernya. Pada akhirnya saat Madun sedang berlatih di Siliwangi FC, dia dipanggil oleh Coach Edi untuk mengikuti seleksi di Bandung pada  tim besar yaitu Akademi Persib Cimahi (APC) yang baru saja juara di Swedia

Keesokan harinya Madun dibawa ke Bandung bersama temannya Nathan yang memiliki postur indah dan kekar. Pada round pertama dan kedua mudah saja lolos namun saat round terakhir Nathan lolos tapi sayang Madun gagal karena badannya kecil dan hanya memiliki tinggi 159 cm.

Akhirnya Madun pun pulang dengan sangat kecewa. Ia menceritakan kegagalannya  itu kepada kakeknya. Madun diminta kakekanya untuk bertapa di batu dekat sungai yang tidak pernah kotor. Disitulah tempat kakeknya mendapat ilmu tendangan super. Madun pun berlatih selama satu hari satu malam, lalu kakeknya menyuruh Madun berlatih dengan sungguh-sungguh.

Berbulan bulan kemudian Madun kembali mengikuti seleksi di Bandung. Pada round pertama dan kedua dengan mudah Madun menang. Pada round terakhir Madun kembali gagal lagi. Ia  pun menelan kekecewaan yang tiada tara.

Setelah pulang ke rumah, Madun merenung di kamarnya, Ia bergumam. “Ya Allah, aku memohon kepadaMu beri kesabaran dan kelapangan atas kegagalanku,” ujarnya.

Di saat kekecewaannya memuncak dan kepasrahannya begitu dalam, tiba-tiba Madun mendapat telepon dari coach Akademi Persib Cimahi (APC).

“Madun kamu dinyatakan lolos seleksi karena tendanganmu super dan kencang,” ungkap coach APC. Madun pun begitu senang dan tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah SWT.


Lantas, ia bercerita dengan girang pada kakeknya. Mendengar cerita Madun tentu saja kakeknya sangat senang apalagi Madun merupakan satu-satunya cucu laki-laki yang sangat disayanginya.

Singkat cerita, Madun pun berhasil menjuarai Soratin Piala Gothia Cup dan lainnya. Bonusnya ia dipanggil timnas Belanda untuk berlatih bersama dalam rangka menimba pengalaman.

Tamat..