Upacara Khidmat di MTsN Kota Cimahi: Neri Afryani Sampaikan Amanat Memaknai Hari Kesaktian Pancasila

Cimahi (MTsN Kota Cimahi) – Suasana halaman MTsN Kota Cimahi pagi tadi dipenuhi semangat kebangsaan. Seribu lebih siswa berbaris rapi mengikuti upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin. Upacara kali ini terasa istimewa karena menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober mendatang.

Bertindak sebagai pembina upacara adalah Nery Afryani, S.Pd. guru Pendidikan Pancasila dan Wali Kelas 8C MTsN Kota Cimahi yang dikenal tegas namun penuh perhatian terhadap siswanya. Sementara itu, petugas upacara berasal dari kelas 8C, yang telah berlatih dengan sungguh-sungguh sejak pekan lalu. Dengan penuh percaya diri, para petugas menjalankan tugasnya mulai dari pemimpin upacara, pengibar bendera, pembaca doa, hingga MC.

Upacara berlangsung khidmat sejak pengibaran bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Seluruh siswa, guru, dan staf tampak mengikuti jalannya upacara dengan tertib. Sesaat setelah laporan pemimpin upacara, tibalah saat yang paling ditunggu, yakni amanat dari pembina upacara.

Dalam amanatnya, Nery menyampaikan pesan yang mendalam terkait memaknai Hari Kesaktian Pancasila.

“Anak-anakku yang Ibu banggakan, pekan ini kita akan memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Hal ini mengingatkan kita bahwa Pancasila adalah dasar negara yang membuat bangsa Indonesia tetap berdiri kokoh, meskipun pernah diguncang berbagai ancaman yang ingin merobohkannya,” ucapnya dengan lantang.

Beliau kemudian mengajak para siswa membayangkan sebuah rumah tanpa pondasi. Rumah tersebut, katanya, pasti akan roboh dan hancur. Demikian pula bangsa Indonesia, yang tanpa Pancasila akan kehilangan pijakan dan arah.

Nery juga menyinggung sejarah kelam bangsa pada peristiwa G30S/PKI, yang menjadi titik penting dalam perjalanan Indonesia. “Peristiwa kelam itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa Pancasila bukan sekadar teks, melainkan benteng yang melindungi keutuhan bangsa,” tegasnya.

Namun, ancaman terhadap Pancasila tidak hanya datang dari ideologi yang ingin menggantikannya. Menurutnya, ancaman masa kini justru muncul di sekitar kehidupan remaja. “Dapat kita lihat di TV, sosial media, maupun platform digital lainnya terkait banyaknya kasus remaja yang terlibat aksi tawuran, terjerat narkotika, mabuk-mabukan, terpengaruh konten negatif di sosial media, bahkan saling membuli teman sendiri,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tindakan tersebut jelas bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Nery mengingatkan, “Tawuran, narkotika, mabuk-mabukan, joget TikTok berlebihan, bullying bukanlah jalan hidup seorang pelajar Indonesia.”

Sebaliknya, ia mendorong para siswa untuk memulai pengamalan Pancasila dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Belajar dengan sungguh-sungguh, mengikuti upacara dengan khidmat, serta beribadah tepat waktu disebutnya sebagai langkah sederhana namun penting.

Nery Afryani selaku Wali Kelas bersama dengan siswa-siswi kelas 8C selepas melaksanakan upacara

“Anak-anakku, remaja hebat bukanlah yang merusak, tapi yang mengamalkan Pancasila dalam sikap dan perbuatan,” tuturnya menutup amanat.

Usai amanat, upacara dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu siswa 8C. Dengan berakhirnya upacara, seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing dengan wajah penuh semangat. Kegiatan pagi ini bukan hanya menjadi rutinitas sekolah, tetapi juga momentum penting untuk meneguhkan komitmen para siswa dalam menjaga persatuan bangsa melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila.

 

Kontributor : Deni Kurniawan As’ari  | Fotografer : Nida Hasna Nazira, Nery Afryani