Kompak, Dua Alumni Ini Jadi Guru ASN PPPK di MTsN Kota Cimahi

Cimahi (MTsN Kota Cimahi) – Selain Rohaeni (Guru Bahasa Sunda), alumni yang kini mengabdi sebagai guru di almamater sendiri, terdapat dua nama yang sama-sama kompak menjadi guru ASN PPPK. Keduanya sempat berstatus sebagai siswa MTsN Kota Cimahi pada masa yang berbeda.

Keduanya adalah Neneng Susy Nursamsiyah, S.HI.,Gr.,M.E (Guru Fikih) yang bersekolah di MTsN Kota Cimahi kurun waktu 1998-2001 dan Desta Permana, S.Sn. (Guru Seni Budaya) pada tahun 2004-2007.

Berikut profil singkat kedua alumni tersebut.

Neneng Susy Nursamsiyah biasa dipanggil Neng Susy, lahir di Bandung, pada 22 Juni 1986. Hobinya hiking dan mencoba hal-hal positif yang baru. Saat kecil bercita-cita ingin menjadi seorang dokter.

“Tapi tak apa nggak jadi dokter, insyaallah,  otw jadi doktor. Saya yakin Apapun yang menjadi skenario Allah, itulah yang terbaik. Saat Allah swt tutup jalan yang satu maka Allah swt akan bukakan lagi jalan yang lain yang lebih baik,” katanya.

Dari apa yang ia alami terkait cita-citanya itu, ia mengambil pelajaran berharga : tak semua di dunia itu harus melulu sesuai dengan versi yang kita inginkan. Karna ternyata versi Allah itu lebih Indah.

Pengalaman pendidikan diawalinya pada SDN Cibeber II (Lulus 1998), MTs Negeri Sukasari Cimahi (Lulus 2001). Kemudian melanjutkan ke MAN Model (1) Bandung (Lulus 2004). Gelar sarjananya diperoleh dari S1 Hukum Ekonomi Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Lulus 2008), Akta IV, UNISBA (Lulus 2010), Pendidikan Profesi Guru (PPG) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lulus 2019) dan terakshir S2 Ekonomi Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Lulus 2021).

Ia bercerita kondisi MTsN saat masih menjadi siswa.
“Kondisi saat itu masih dikelilingi oleh banyaknya lahan persawahan yang masih aktif sehingga banyak yang menyebut MTs sebagai Madrasah Tengah Sawah. Jumlah ruangan masih sedikit, lahan terbuka yang masih luas,” ujarnya mengenang.

Neng Susy mengidolakan banyak guru. Diantaranya Odah, S.Ag (Fikih), Rubaitun, M.Pd. (Matematika), Hj. Ani Anisah, S.Ag (B. Arab), Rosita, S.Pd (Sejarah Nasional), Sri Gunarti, S.Pd (B. Inggris), Inen Usman, M.Pd (B. Indonesia), Dede Karya Zainuddin, M.Pd (Qur’an Hadist), Rudaya, M.Pd (SKI), Hamidah, S.Pd (Biologi), Yunyun (Fisika), dan Sri Maryono (PJOK). Semua gurunya pada saat itu favorit.

Dalam ingatannya siswa-siswi MTsN saat bersekolah dulu rata-rata memiliki semangat luar biasa dalam belajar.

“Saat itu MTsN juga terkenal dengan prestasi organisasi pramukanya dengan pembimbing Bapak Dede Karya Zainudin, M.Pd,“ ujarnya.

Menarik apa yang disampaikan Kepala MTsN Kota Cimahi Rubaitun, M.Pd yang pernah menjadi gurunya. “Bu Neng Susy termasuk siswa yang “pintar matematikanya.”

Pada 2009 Neng Susy pertama kalinya menjadi guru MTsN. Awalnya ia tidak begitu percaya ketika kembali lagi ke MTsN dengan posisi sebagai tenaga pengajar.

“Waktu itu saya sedang senang-senangnya bekerja di sebuah perusahaan swasta, mengajar saat itu bagi saya hanya sekedar pengisi waktu luang saja saat saya sedang tidak bekerja. Qadarullah sejak hari itu saya merubah cara pandang saya, Ketika melihat orangtua yang sudah sepuh dan sering sakit-sakitan meminta untuk meneruskan jejak perjuangannya di dunia Pendidikan,” terang Wali Kelas 8K tersebut.

Akhirnya ia kembali mengambil kuliah akta IV, dan tidak lama dari situ Allah memberikan rezeki dengan lulus dalam ujian Pendidikan Profesi Guru dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.

MTsN Telah Jauh Berubah

Dalam kacamatanya kondisi MTsN di tahun 1998 dengan sekarang jauh berbeda. Menurutnya sekarang banyak ruangan kelas, lapangan luas, juga minat para orangtua untuk menyekolahkan para perserta didik ditengah gempuran sistem zonasi dan jalur prestasi juga akademik MTsN Kota Cimahi mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun swasta yang ada di kota cimahi. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya selaku alumni sekaligus guru.

Ia berharap MTsN akan lebih maju lagi dengan kualitas pendidikan melalui sistem yang lebih baik dan fokus pada ilmu pengetahuan, lingkungan belajar yang nyaman, aman dan inklusif bagi semua siswa. Selain itu mampu mengembangkan karakter dan keterampilan abad 21 yang menunjang kesiapan siswa menghadapi masa depan.

“Harapan besar juga untuk seluruh stakeholder yang ada di MTsN untuk bisa mengusahakan lebih baik lagi demi kemajuan madrasah, menjaga kekompakan, menyamakan visi dan misi, bekerjasama untuk saling memberikan ilmu dan informasi berkaitan dengan upaya memajukan madrasah. Mari kita fokus pada perbaikan berkelanjutan dalam manajemen kinerja,” pungkasnya.

 

Desta Permana biasa dipanggil Desta. Lahir di Cimahi pada 15 November 1991. Saat masih TK memiliki cita-cita jadi Supir kereta api (masinis). Pengalaman Pendidikan diawali dari SDN Kujang 4 (Lulus 2004), MTsN Sukasari (2004-2007), dan MAN Kota Cimahi (2007-2010). Adapun gelar Sarjana Seni (S.Sn) diperoleh dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (2010-2014).

“Saya ingat betul, pada tahun 2004 akhir,  kondisi MTsN sedang membangun beberapa ruangan, diantaranya ruang guru dan kelas (belakang kesiswaan saat ini). Kondisi guru saat itupun harmonis dan semangat ketika di kelas, semasa mtspun menjadi saksi yang penuh dengan cerita dan karya,” katanya.

Guru yang ia favoritkan saat itu adalah Pak Gaos (Guru PKn) dan Alm. Pak Syahida Anur (Guru IPA). Kenangan yang tak terlupakannya  yaitu saat berada di kelas 7, dalam pelajaran seni budaya ketika materi praktiknya menggambar, tidak pernah mendapatkn nilai lebih dari 60, paling besar di berikan nilai 55 oleh Pak Dedi (Guru seni budaya).

“Namun orang tua menyuruh hanya boleh mengikuti ekskul kesenian saja, dan terus bertemu lagi dengan guru Seni. Namun semua itu terasa sekali didikan Pak Dedi yang membentuk karakter mandiri, mental yang kuat, dan tentunya ilmu-ilmunya sangat bermanfaat sampai saat ini,” terang Desta.

Diantara yang paling berkesan juga baginya yaitu ekstrakurikuler kesenian calung MTsN (nama grup Cikal Gumilar) menjadi ikon terkenal di kemenag dan pemkot Kota Cimahi. Hampir setiap lomba dan festival MTsN mengikutinya.

“Juga manggung dari panggung ke panggung. Alhamdulillah dapat uang jajan dan jadi orang daerah Cibeber, hehe..,” kenangnya.

Desta mengakui itu semua berkat asuhan dan didikan Pak Dedi Hidayat selaku pelatih ekstrakurikuler kesenian yang sabar mengajari mereka yang anggotanya Desta, Imam, Irfan, Rafli, Agung, Kholid, Cecep, dan Cahya.

Terkait kemampuannya di bidang calung, Desta telah diminta secara khusus oleh Kepala MTsN Kota Cimahi Rubaitun, M.Pd.

“Pak Desta, setelah bergabung sebagai guru ASN PPPK di MTsN, buat dan aktifkan kembali grup calungnya ya,” ujar Bu Kamad kepadanya saat pertama kali menghadap sebagai ASN PPPK.

 

Bu Yayu Wahyuni Hidayati Wali Kelas yang Sangat Membantu

Ada peristiwa menarik yang tak akan dilupakannya. Kebaikan dari Wali kelasnya saat kelas 9, Bu Yayu Wahyuni Hidayati (Saat ini sebagai Kepala Perpustakaan dan guru mapel Bahasa Indonesia). Beliau yang memberinya motivasi untuk tetap bersekolah ketika dirinya mengalami down luar biasa saat itu.

“Bahkan Bu Yayu ikut membiayai ketika saya bersekolah di tingkat SMA/MA, waktu itu melanjutkan ke MAN Kota Cimahi,” tuturnya.

Desta mengaku secara jujur. “Pertama kali jadi guru di MTsN sangat gugup, kaget, dan reuwas. Saya ditugaskan mengabdi di sekolah asal sebagai guru ASN PPPK,” katanya.  Ia juga merasa bangga sekaligus terharu dan beryukur akhirnya bisa satu ruangan dengan guru yang dulu mendidiknya yaitu Pak Dedi Hidayat. Sebelum bergabung di MTsN, Desta mengabdi sebagai guru honorer di MAN Kota Cimahi.

Baginya MTsN sekarang sangat berbeda. Bangunan yang menjadi bagus, lapanganpun sudah keren, bahkan tata kelola madrasah pun lebih tertata rapi sehingga membuat betah dan nyaman di lingkungan MTsN.

“Saat ini harapan saya tak muluk-muluk, ingin memajukan MTsN Kota Cimahi semakin terkenal, tentunya dengan disertai ilmu, adab yang berbuah menjadi akhlakul karimah,” pungkas Desta sembari tersenyum.

 

Kontributor: Deni Kurniawan As’ari     Fotografer: Neng Susy & Desta