
Oleh: Deni Kurniawan As’ari | Penerima PGM Award 2024 & BPIP Award 2025
Tak terasa. Waktu berjalan begitu cepat. Dua puluh empat tahun sudah menjadi guru dan menemani siswa. 2001 lalu tepatnya bulan Maret pertama kalinya menjadi seorang guru. Ya, guru. Sebuah profesi yang tak asing dalam keseharian semenjak kecil, karena kakek, ayah, dan sebagian besar uwak adalah guru. Rata-rata berprofesi sebagai guru SD dan guru madrasah.
Sampai saat ini setidaknya empat sekolah/madrasah telah menjadi saksi perjalanan panjang sebagai guru. Awal mula menjadi guru ketika diterima melalui proses seleksi panjang dan ketat di SDIT unggulan yang berada di Purwokerto Jawa Tengah. Kemudian beralih ke SMK di Ajibarang. Selanjutnya MTsN di Kota Majenang dan kini bertugas di MTsN Kota Cimahi.
Begitu banyak kenangan indah saat menjalani profesi sebagai guru. Tak sedikit pula dinamika dan duka mewarnai. Dari sekian banyak kenangan itu, kebersamaan dengan siswa dalam meraih juara lomba adalah yang paling berkesan. Kebahagiaan tak terkira melebihi apapun ketika membimbing siswa dalam suatu lomba kemudian berhasil menjadi juara. Meraih kejuaraan itu terutama ketika dilalui dengan proses yang panjang dan berdarah-darah. Memompa semangat siswa. Memotivasi untuk terus berlatih dan menggelorakan optimis menang adalah sesuatu yang tak boleh hilang.
Potensi dan minat siswa yang awalnya biasa kemudian digembleng sedemikian rupa sehingga meraih kejuaraan adalah tantangan yang kerap dihadapi. Ketika lomba telah diikuti dan siswa yang dibimbing berhasil juara maka kebahagian dan kepuasan dalam dada itu membuncah. Bukan piala atau hadiah yang menjadi sumber kebahagiaan atau kepuasan itu. Namun, berhasil meyakinkan siswa untuk tetap bersemangat mengikuti lomba ketika peluang menang kecil dan mencurahkan segala potensi yang dimilikinya.
Adakalanya saat latihan terjadi bentrok jadwal. Perubahan waktu dan kejadian tak terduga. Tantangan-tantangan yang ada musti disikapi dan dihadapi dengan bijaksana. Kesepakatan baru dengan siswa yang sedang dibimbing perlu dilakukan. Semua dijalani dengan enjoy dan tetap semangat.
“Aduh meni terharu makasih bapak telah membimbing anak-anak raih juara,” “Alhamdulillah, selamat ya pak, selamat juga anak-anak sholeh sholekha. Makasih bapak atas bimbingannya,” itulah sedikit apresiasi dari orang tua melalui grup WA ketika kelas yang dibimbinng meraih juara lomba. Orang tua merasa bangga dan berterima kasih atas capaian prestasi lomba. Apresiasi tersebut menambah bahagia dan rasa syukur yang tak terkira. Hilang segala lelah saat pembimbingan. Lupa berbagai masalah yang dihadapi saat persiapan dan latihan. Semua terbayar lunas. Bahagia!
Membimbing siswa dalam lomba dapat dikatakan sebagai sebagian kesukaan tersendiri. Senang sekali ketika bisa ikut membina dan mengembangkan potensi siswa dalam lomba. Nampaknya peran ini akan terus dilakukan selama menjadi guru.
Ada beberapa kiat yang dapat dipertimbangkan dalam pembimbingan siswa mengikuti lomba. Pertama, niat yang lurus. Niat ini adalah kunci penting dalam membimbing siswa ketika mengikuti lomba. Begitu juga untuk siswa. Rasanya tanpa adanya niat yang lurus, maka kegiatan lomba tak akan berhasil maksimal.
Kedua, ikhlas dalam proses pembimbingan. Selain niat yang lurus, keikhlasan sangat penting. Saat menghadapi tantangan dan masalah, modal ikhlas ini menjadi begitu berharga. Ikhlas modal penting bagi guru. Dengan ikhlas ini insya Allah hasil juga akan lebih optimal.
Ketiga, update ilmu. Membimbing siswa tentu akan dihadapkan pada berbagai tantangan yang berbeda antara satu dengan yang lainya, antara lomba satu dengan lainnya. Pembimbing diharapkan untuk senantiasa update ilmu itu adalah sebagai keniscayaan. Tanpa upaya update ilmu ini maka potensi, bakat dan kemampuan siswa yang dibimbing akan menjadi stagnan, monoton dan kurang berkembang maksimal. Update ilmu ini dapat dilakukan oleh guru melalui video-video di youtube, organisasi guru, dan kegiatan pengembangan lainnya yang saat ini banyak diadakan secara online.
Keempat, berikan contoh kepada siswa. Menjadi pembimbing lomba harus pula mampu memberikan contoh dan keteladanan kepada siswa. Artinya ketika siswa didorong untuk meraih prestasi maka guru pembimbingnya juga harus berprestasi. Hal ini dinilai penting agar menjadi contoh dan teladan sekaligus memotivasi siswa. Menjadi hambar ketika mengatakan kepada siswa untuk berprestasi namun gurunya belum pernah meraih prestasi sama sekali.
Kelima, asah siswa mental pemenang. Mental pemenang begitu penting dan nampaknya musti dimiliki siswa saat ikut lomba. Dengan memiliki mental pemenang akan muncul percaya diri. Percaya diri adalah mutlak perlu dimiliki siswa. “Kalian adalah yang terbaik” sering disampaikan kepada siswa. Bukan bermaksud untuk sombong atau membanggakan diri namun semata-mata untuk menanamkan percaya diri.
Keenam, berdoa untuk keberhasilan lomba. Sedari awal ditanamkan kepada siswa bahwa keberhasilan dalam lomba tak hanya sekedar ikhtiar lahir semata namun harus ditunjang dengan ikhtiar batin terutama do’a. Hal ini tak boleh ketinggalan. Guru selalu mendoakan agar siswa berhasil dalam setiap lomba. Selain itu yang juga tak boleh ketinggalan adalah siswa senantiasa berdo’a dalam persiapan lomba maupun saat lomba. Kemenangan lomba bukan segalanya. Proses dan aktivitas agar bernilai ibadah itu yang paling penting dari segalanya.
Terakhir, ketujuh, pasrah dan ikhlas. Ketika semua upaya persiapan telah dilakukan maka langkah akhir yang wajib dilakukan adalah pasrah dan ikhlas. Apapun hasil lomba kita pasrahkan pada yang Maha Kuasa. Jika menang lomba bersyukur. Jika kekalahan yang didapat maka ikhlas dan menerima dengan lapang dada.
Tujuh kiat inilah yang dapat dijadikan sebagai bekal dalam menemani siswa saat pembimbingan. Seringkali berhasil meraih juara, namun tak jarang pula gagal dalam perlombaan. Dengan bekal ini setidaknya menjadi pemandu untuk terus bersemangat dalam membimbing siswa.


4 komentar
Aulia uly syabani, Minggu, 5 Okt 2025
Keluarga, Tempat Pulang Paling Tenang
Di tengah hiruk pikuk dunia dan lelahnya perjalanan hidup, keluarga selalu jadi tempat yang paling tenang untuk kembali. Mereka mungkin tak sempurna, tapi di sanalah kita belajar arti menerima, memaafkan, dan mencintai tanpa syarat.
Tak peduli sejauh apa kaki melangkah, rumah yang sesungguhnya adalah hati yang menyambut kita pulang—itulah keluarga.
Aulia uly syabani, Minggu, 5 Okt 2025
Di tengah hiruk pikuk dunia dan lelahnya perjalanan hidup, keluarga selalu jadi tempat yang paling tenang untuk kembali. Mereka mungkin tak sempurna, tapi di sanalah kita belajar arti menerima, memaafkan, dan mencintai tanpa syarat.
Tak peduli sejauh apa kaki melangkah, rumah yang sesungguhnya adalah hati yang menyambut kita pulang—itulah keluarga.
Mohammad Shauqi Rafasya, Senin, 6 Okt 2025
Pendidikan bukan hanya tentang memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran siswa. Pendidikan adalah tentang mengubah cara berpikir siswa, memotivasi untuk bermimpi lebih besar, dan memberi keberanian untuk menghadapi tantangan hidup. Di balik setiap siswa yang sukses, ada seorang guru hebat yang menjadi pemandu, penginspirasi, dan pendamping dalam perjalanan siswa.
Guru memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk masa depan bangsa. Bukan hanya dalam membagikan ilmu, tetapi juga dalam membangun karakter dan memberikan arahan hidup. Kesuksesan seorang siswa tidak pernah hanya ditentukan oleh kecerdasannya saja, tetapi oleh siapa yang mengajarnya, bagaimana cara dia diajarkan, dan nilai-nilai apa yang ditanamkan sepanjang proses pembelajaran. Terimakasih guruku.
Ioan Danish Pratama, Senin, 6 Okt 2025
Deni Kurniawan As’ari, seorang guru berpengalaman, berbagi pengalamannya selama 24 tahun dalam membimbing siswa meraih juara lomba. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah melihat siswa berhasil melalui proses panjang dan berdarah-darah, bukan sekadar mendapatkan piala. Ia menekankan pentingnya memompa semangat siswa dan menumbuhkan optimisme untuk menang.
Dalam tulisannya, Deni Kurniawan As’ari membagikan tujuh kiat pembimbingan siswa dalam lomba, yaitu niat yang lurus, ikhlas, update ilmu, memberikan contoh, mengasah mental pemenang, berdoa, serta pasrah dan ikhlas. Ia menekankan bahwa kemenangan bukanlah segalanya, melainkan proses dan aktivitas yang bernilai ibadah yang paling penting.