
Oleh : Agus Gunawan, M.Pd. | Guru Bahasa Arab MTs Negeri Kota Cimahi
Abstrak
لقد تم ممارسة أساليب مختلفة في قراءة القرآن على نطاق واسع، ولكن النتائج المتوقعة غير موجودة. من خلال تقنيات جمع البيانات المستخدمة في شكل استبيانات وملاحظة المشاركين (مراقب مشارك) مقرونة بمنهج بحثي في شكل ملاحظة المراجع وهو مطابق لأنشطة تحليل النص أو الخطاب. فكيف تحسن قراءتك للقرآن، خاصة ما يتعلّق بمخارج الحروف حتى تبعد عن الأخطاء. ونتيجة لذلك، من خلال طريقة تحسين القرآن بالأصابع الثلاثة يحدث تغيير في قراءة القرآن للأفضل. وبالتالي، ينبغي القول أن الدراسة المتعلقة بتحسين قراءة القرآن، وخاصة فيما يتعلق بالطريقة المستخدمة في المدرسة الثانوية الحكومية رقم 1 بمدينة جيماهي. يفيد به أن يوفّر المعلومات والمقارنة بين طرق تحسين القرآن الأخرى.
Berbagai metode membaca Al-Qur’an sudah banyak dipraktekkan, hanya hasil yang diharapkan tidak seindah kenyataan. Melalui teknik pengumpulan data yang digunakan berupa kuesioner dan observasi berperan serta (participant observer) ditambah dengan pendekatan penelitian berupa tinjauan pustaka (library research) yang identik dengan kegiatan analisis teks atau wacana. Sehingga bagaimana cara memperbaiki bacaan Al-Qur’an terutama yang berkaitan dengan makhāriju al-hurûf sehingga terhindar dari kesalahan. Hasilnya, melalui metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari terdapat perubahan dalam pembacaan Al-Qur’an menjadi lebih baik. Dengan demikian, kajian mengenai perbaikan bacaan Al-Qur’an terutama berkaitan dengan metode yang digunakan di MTs Negeri Kota Cimahi patut dikatakan bermanfaat guna menjadi bahan informasi dan perbandingan bagi metode Tahsin lainnya.
Kata Kunci: Tahsin, Al-Qur’an, Metode Tiga Jari
A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Melalui Al-Qur’an, umat Islam mendapatkan petunjuk hidup. Petunjuk hidup bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi petunjuk untuk kehidupan akhirat pula. Petunjuk hidup ini mesti dipahami agar dapat diamalkan. Salah satu cara untuk memahami adalah dengan membacanya.
Membaca Al-Qur’an adalah kewajiban bagi setiap umat Islam. Kewajiban yang waktunya tidak ditentukan. Kapanpun bahkan dimanapun, Al-Qur’an dapat menjadi ‘teman’ perjalanan. Akan tetapi, fenomena yang terjadi dikarenakan waktunya yang luang, maka membaca Al-Qur’an sering terlupakan. Kewajiban untuk membaca Al-Qur’an pun tidak diingat sebagaimana kewajiban lainnya. Bahkan umat Islam dengan mudah berkata, saya tidak mampu membaca Al-Qur’an. Malu membaca Al-Qur’an karena masih terbata-bata. Sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi kitab suci. Maksud ‘suci’ disini karena Al-Qur’an jarang disentuh, maka dia bersih tidak pernah dijamah oleh tangan. Bahkan hanya menjadi pajangan di ruang tamu, tidak menjadi pegangan yang seharusnya tersimpan di kalbu.
Berbagai metode membaca Al-Qur’an sudah banyak dipraktekkan, hanya hasil yang diharapkan tidak seindah yang diharapkan. Sebagaimana hasil penelitian (Qaromah, 2021) menunjukkan kesulitan yang sering dialami siswa kelas VII MTs Nahdhatul Wathan (NW) Rumbuk Lombok Timur saat membaca Al-Qur’an dari segi makhārijul hurūf, sifātul hurūf, dan hukum tajwid lainnya.
Selain metode yang disajikan dalam membaca Al-Qur’an, ternyata strategi dalam mengajarkan Al-Qur’an yang efektif dan efisien berpengaruh kepada minat belajar siswa terutama dalam peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an sebagaimana hasil penelitian (Badriah et al., 2023), bahwa guru perlu untuk mendesain kegiatan belajar yang memudahkan siswa dalam memahami materi ajar. Melalui desain pembelajaran yang memanfaatkan waktu efektif untuk menyediakan bagi siswa, materi dengan sumber yang valid.
Minat siswa dalam membaca Al-Qur’an menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan minat membaca Al-Qur’an, termasuk penguasaan ilmu Tajwid. Sebagaimana hasil penelitian (Setiyani et al., 2018) bahwa terdapat minat membaca Al-Qur’an pada siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri Papandayan Kota Bogor, dengan kontribusi variabel penguasaan ilmu tajwid dapat meningkatkan minat baca Al-Qur’an sebesar 4,5%. Adapun sebesar 95,5% minat baca Al-Qur’an dipengaruhi oleh faktor lain.
Meskipun terdapat problematika yang sering mengiringi dalam membaca Al-Qur’an, sebagaimana hasil penelitian (Putri & Harfiani, 2022) terdapat problematika dalam menghafal Al Qur’an seperti rasa capek dan bosan, demikian pula munculnya rasa malas karena tidak mampu mencapai target hafalan. Bukan hanya faktor dalam diri, terdapat faktor luar yang mempengaruhi, sebagaimana hasil penelitian (Nurtsany et al., 2020), bahwa ketidakmampuan dalam membagi waktu dan pengaruh handphone dapat memicu problematika dalam membaca Al-Qur’an.
Menurut Annuri ( 2020) terdapat kiat sukses dalam membaca Al-Qur’an terlebih membaca dengan lebih baik lagi, yaitu melalui niat yang ikhlāṣ, keyakinan, talaqqi (belajar melalui pembimbing), disiplin membaca, terikat untuk menambah bacaan, membiasakan dengan satu jenis tulisan dari muṣhaf, banyak mendengar bacaan murottal, dan mau menerima nasihat.
Bimbingan seorang guru menjadi salah satu kiat sukses dalam membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, melalui bimbingan guru dapat meningkatkan kemampuan baca seseorang. Terutama dalam masalah pelafalan huruf-huruf Hijaiyyah, karena Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf tersebut.
Menguasai pelafalan huruf-huruf Hijaiyyah diperlukan agar tidak timbul banyak kesalahan dalam membaca Al-Qur’an, sebagaimana hasil analisis (Sholihin, 2020) bahwa bagi pembelajar yang kurang memahami ilmu al-ashwat/fonologi akan menghadapi kendala dan menimbulkan kesalahan dalam pelafalan huruf-huruf Hijaiyah.
Menguasai ilmu Tajwid terutama makhāriju al-hurûf dapat terhindar dari kesalahan dalam melafalkan huruf-huruf Hijaiyyah. Dengan menguasai fonetik artikulatoris, tahu bagaimana dan alat-alat ucap yang mana suatu bunyi dalam bahasa dihasilkan (Royani & Mahyudin, 2020: 94) atau dalam ilmu Tajwid disebut makhāriju al-hurûf.
Dari beberapa fenomena tersebut, terdapat masalah berkaitan dengan pelafalan bacaan Al-Qur’an terutama berkaitan dengan penguasaan makhāriju al-hurûf sebagai salah satu kewajiban utama dalam membaca Al-Qur’an yang masih harus diperbaiki. Salah satu cara memperbaiki bacaan Al-Qur’an diantaranya melalui metode yang telah dipraktekkan oleh penulis. Oleh karena itu, melalui artikel berjudul Tahsin Al-Qur’an Metode Tiga Jari ini diharapkan memberikan informasi dan bahan literasi yang berguna dalam perbaikan bacaan Al-Qur’an.
Metode yang terdapat dalam artikel ini telah dipraktekkan di MTs Negeri Kota Cimahi untuk beberapa kali pertemuan secara serentak dalam kegiatan Kajian Tahsin setiap hari Kamis, minggu kedua dan kelima selama tahun 2023. Selain, menjadi metode yang dilaksanakan dalam pembelajaran BTAQ dan Tahfidz yang dilakukan oleh penulis sebagai pendidik di MTs Negeri Kota Cimahi. Melalui artikel ini diharapkan masalah berkaitan dengan pelafalan Al-Qur’an dapat dihindari bahkan diperbaiki sesuai kriteria ilmu fonologi.
B. METODE
Metode penelitian dalam makalah ini bersifat kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui kuesioner dan observasi berperan serta (participant observer). Demikian pula metode yang digunakan tidak terlepas dari tinjauan kepustakaan (library research) yang identik dengan kegiatan analisis teks atau wacana. Hal ini guna terkumpul data dan menghasilkan informasi yang relevan dengan topik yang diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karya ilmiah, tesis, disertasi, dan lainnya. Melalui analisis wacana pun diharapkan terjadi interaksi penulis dengan pikiran-pikiran yang terkandung dalam sebuah bahan pustaka (Hamzah, 2021: 275).
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kata tahsin sebagaimana dalam (Rusyd, 2019), berasal dari kata hassana–yuhassinu-tahsīnan yang artinya memperbaiki, mempercantik, membaguskan, atau menjadikan lebih baik. Jadi, segala kegiatan yang menunjukkan makna memperbaiki atau mempercantik disebut tahsin.
Tahsin sendiri merupakan terjemah secara bahasa untuk tajwid. Adapun tajwid sebagaimana (كامل, 2005) secara terminologi adalah memberikan setiap huruf haq dan mustahaq-nya. Haq huruf yaitu sifat yang tetap dan senantiasa ada pada huruf, seperti jahr, syiddah, isti’la, istifāl, qolqolah, dan sebagainya. Adapun mustahaq huruf yaitu sifat yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, idgōm, ikhfa’, dan yang lainnya.
Adapun apabila kata tahsin direkatkan dengan Al-Qur’an maka menjadi tahsin al-Qur’an. Ini memberikan arti memperbaiki dan menjadikan lebih baik bacaan Al-Qur’an yang terdiri dari huruf-huruf Hijaiyyah dengan memperhatikan haq maupun mustahaq huruf-hurufnya.
- Metode Tahsin
Metode Tahsin sebagaimana (Izzan & Saepudin, 2018) jelaskan, terdapat sekitar 15 metode berkaitan dengan pembelajaran Al-Qur’an, yang dapat disimpulkan bahwa metode yang ada memiliki tujuan untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan baik dan lancar, selain menitikberatkan kepada penguasaan huruf-huruf Hijaiyyah. Di antara metode tersebut ada yang diperuntukkan untuk yang sudah menguasai huruf-huruf Hijaiyyah, ada juga yang dimulai dari dasar. Berikut nama-nama metode Tahsin sebagaimana dijelaskan yaitu metode Ummi, metode Tilawati, metode Asy-Syafi’i, metode ‘Asyarah, metode Qiro’ati, metode Al-Bana, metode Tar-q, metode Iqra’, metode Quantum Qur’an, dan sebagainya.
Perlunya kita dalam memahami metode Tahsin, sebagaimana (Annuri, 2020: 72-75) jelaskan, bahwa urgensi tahsin dalam bacaan Al-Qur’an diantaranya menimbulkan rasa cinta Allah SWT bagi yang membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkannya; Penghayatan terhadap Al-Qur’an akan mudah, lihat QS. Ṣād [38]: 29, karena ini merupakan misi Al-Qur’an diturunkan; Pahala Allah SWT diraih dengan baik, apabila bacaan Al-Qur’annya lancar; Mampu menjadi pengajar bagi orang lain; Kualitas seseorang akan terangkat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa yang mahir Al-Qur’an bersama dengan malaikat yang mulia lagi ta’at; Dan mampu memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an.
Dalam kitabnya imam Muslim (Muslim, 1998) meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, yang memiliki arti “Allah SWT tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu, seperti perhatiannya terhadap Nabi yang melagukan Al-Qur’an dengan suara yang indah.” Saat membaca Al-Qur’an melalui metode Tahsin yang dapat memperindah dalam melantunkan Al-Qur’an, maka Nabi pun dianjurkan demikian oleh Allah SWT.
- Implementasi Metode Tahsin Al-Qur’an di MTs Negeri Kota Cimahi
Penerapan metode dalam perbaikan bacaan Al-Qur’an diperlukan oleh setiap muslim. Terlebih lagi, bagi yang sedang belajar Al-Qur’an. Bidang studi yang terkait dengan Al-Qur’an diantaranya adalah pelajaran Qur’an Hadits, Fiqih, Akhlaq dan Tahfidz. Bidang studi yang terdapat di Madrasah ini, sudah tentu mencantumkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai salah satu materinya, terutama pelajaran Tahfidz.
Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Cimahi yang terdapat di kota Cimahi menjadi lokasi penelitian dalam artikel ini. Melalui observasi dan survey yang dilakukan terutama berkaitan dengan tema Tahsin Al-Qur’an Metode Tiga Jari, penulis dapat mengambil kesimpulan berkaitan dengan metode tahsin yang dilaksanakan dalam pelajaran Tahfidz ataupun kegiatan dua mingguan yang mengumpulkan seluruh civitas akademia MTsN Kota Cimahi baik guru, peserta didik, tenaga kependidikan dan orang tua untuk mempelajari metode Tahsin metode Tiga Jari.
Observasi yang dilaksanakan adalah participant observation (observasi berperan serta) melalui pengamatan langsung. Penulis sebagai pembimbing dalam kegiatan dua mingguan di MTs Negeri Kota Cimahi memungkinkan untuk menggunakan pendekatan induktif sehingga diharapkan mendapat penemuan atau discovery yang baru. (Sugiyono, 2019)
Selain kegiatan dua mingguan yang diikuti seluruh civitas akademi MTs Negeri Kota Cimahi, penulis pun melakukan observasi dalam pembelajaran Tahfidz. Melalui pembelajaran Tahfidz ini disimpulkan bahwa melalui metode Tahsin Tiga Jari dapat diamati perkembangan yang signifikan, terutama dalam cara baca siswa-siswi MTs Negeri Kota Cimahi. Berikut tabel hasil observasi penulis selama membimbing melalui metode Tahsin Tiga Jari.
Tabel Hasil Observasi Metode Tahsin Tiga Jari
| No. | Yang Diobservasi | Realisasi Kegiatan | Implikasi Kegiatan |
| 1 | Program Kerja Waka. KeagamaanMTs Negeri Kota Cimahi | Pelaksanaan Kajian Tahsin 2 minggu sekali dengan seluruh Civitas MTsN | – Kemampuan siswa/i MTs Negeri Kota Cimahi semakin meningkat terutama dalam baca Al-Qur’an dengan baik.- Program Tahfidz menjadi program unggulan di MTsN;- Kelas khusus untuk Tahfidz di kelas 7, 8 dan 9;- Pembacaan Al-Qur’an saat upacara lebih bagus;- Setiap ada acara ditampilkan guru dengan bacaan Al-Qur’an yang sesuai dengan ilmu Tajwid dan Tahsin;- Program ODOP (One Day One Page) dilaksanakan setiap pagi hari sebelum memulai pembelajaran. |
| 2 | Kegiatan Belajar Mengajar Tahfidz di Kelas | Pembelajaran Tahfidz untuk Kelas 7, 8 dan 9 |
Perlu diketahui Metode Tahsin Tiga Jari, berpanduan pada buku yang disusun oleh penulis sendiri yang berjudul Tahsin Al-Qur’an (Panduan Tahsin Al-Qur’an Tingkat Dasar) yang bersumber dari beberapa buku ilmu Tajwid dan ilmu Tahsin.
- Mengenal Metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari
Metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari ini lahir dari observasi penulis selama mengajar Al-Qur’an baik saat mengajar di Madrasah maupun mengajar “ngaji” di Masjid. Pengalaman penulis pun menjadi cikal bakal lahirnya metode ini. Salah satunya, berkaitan dengan sumber rujukan untuk mempelajari tata cara membaca Al-Qur’an baik ilmu Tajwid, ilmu Tahsin, atau Tilawah Qur’an. Sumber rujukan atau buku-buku yang menjelaskan mengenai hukum-hukum dalam ilmu Tajwid masih tidak sistematis artinya sulit untuk dipahami bahkan dihafal, sehingga saat dipraktekkan dalam membaca Al-Qur’an banyak yang masih bingung.
Selain dari fenomena tersebut, dalam proses pengajaran Al-Qur’an, masih ditemukan oleh penulis, cara baca siswa-siswi yang masih datar. Cara membaca ta’awwuż dan basmalah yang datar tanpa ada intonasi yang bagus. Sehingga untuk membaca Al-Qur’an dari awalnya saja tidak ada semangat karena intonasi yang datar.
Beberapa fenomena tersebut, mendorong penulis untuk membuat terobosan bahkan hal yang baru mengenai metode yang dapat memudahkan siswa-siswi bahkan masyarakat muslim secara luas, agar dalam membaca Al-Qur’an mudah mengetahui hukum-hukum tajwidnya secara mudah ditambah cara baca Al-Qur’an dapat lebih indah dari sebelumnya yang masih datar.
Muncullah buku Tahsin Al-Qur’an (Panduan Tahsin Al-Qur’an Tingkat Dasar) sebagai panduan dalam mempelajari ilmu Tajwid ditambah dengan metode tahsin atau perbaikan bacaan Al-Qur’an dengan teknik tiga jari. Adapun tahapan metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari adalah sebagai berikut:
- Memahami dan menguasai teknik Tahsin dalam membaca Al-Qur’an melalui buku Tahsin Al-Qur’an;
- Menguasai teknik membaca Al-Qur’an berdasarkan langgam-langgam yang ada dalam qiro’ah yang terdiri dari Bayati, Shoba, Hijaz, Jiharkah, Nihawand, Sikka dan Ros. Disingkat dengan Baso Hiji Ni Karaos. Dalam langgam qiro’ah yang diajarkan oleh penulis menggunakan langgam Bayati. Langgam Bayati ini dibagi menjadi 3 nada, yaitu nada naik, nada datar dan nada turun.
- Menguasai teknik menghafal ayat dengan tiga jari sambil membaca ayat melalui teknik bacaan menggunakan langgam Bayati dengan tiga nada, yaitu nada naik, nada datar dan nada turun;
- Teknik tiga jari terdiri dari jari telunjuk, jari tengah dan jari manis yang digunakan. Jari telunjuk dibagi tiga ruas untuk angka 1, 2, dan 3; Jari tengah dibagi tiga ruas untuk angka 4, 5, dan 6; dan jari manis dibagi tiga ruas untuk angka 7, 8, dan 9. Sedangkan untuk angka 10 tangan dikepalkan. Tangan yang digunakan adalah tangan kanan. Angka-angka ini untuk digunakan saat membaca ayat per ayat dalam Al-Qur’an. Saat membaca ayat 1 sampai 3 kita sentuhkan jempol ke telunjuk, lalu saat membaca ayat 4 sampai 6 sentuhkan jempol ke jari tengah, dan saat membaca ayat 7 sampai 9 sentuhkan jempol ke jari manis dan untuk ayat 10 kita kepalkan tangan kita. Untuk ayat 11 dan seterusnya disamakan sebagaimana ayat 1 s.d. 10.
- Materi Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari
Materi di dalam metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari ini terangkum dalam pembahasan terhadap 4 tingkatan (marhalah) yang terdiri dari:
- Dasar-dasar Tahsin
Dalam memulai pembelajaran Tahsin, perlu diketahui bahwa Tahsin memiliki dasar-dasar Tahsin. Berikut dasar-dasar Tahsin yang mesti dimiliki bagi yang hendak memperindah bacaan Al-Qu’ran. Terdapat 4 dasar Tahsin yaitu:
- Ayun Suara, berkaitan dengan huruf mad yang diayun dengan panjang 2 harkat, disaat bertemu dengan huruf mad (ا, و , ي) disebut mad thabi’i dan ketika ada ha (هـ) diakhir atau mad shilat qoshiroh;
- Tahan Suara, berkaitan dengan hukum nun mati, hukum mim mati dan gunnah musyaddad, di antara hukum-hukum tersebut ada bacaan yang mesti ditahan 2 harkat dan ada yang tidak perlu ditahan, seperti Idhar Halqi, Idgam bilā Gunnah, dan Idhar Syafawi;
- Vocal Sempurna, saat membaca harokat fathah, kasrah, maupun dlommah, maka posisi bibir benar-benar terbentuk, saat mengucapkan harokat fathah mulut terbuka, saat mengucapkan harokat kasroh bibir pecah ke pinggir dan saat mengucapkan harokat ḍommah, bibir dimonyongkan;
- Lemah lembut di-sukun, maksudnya suara mengalir dengan lembut ketika mengucapkan huruf sukun, hal ini dilakukan agar terhindar dari suara memantul dan suara tertekan/jeda.
- Huruf-huruf Hijaiyyah
Terdapat dua kaidah yang dibahas berkaitan dengan huruf-huruf Hijaiyyah yaitu makhārij al-hurūf dan sifāt al-hurūf yang erat kaitannya dengan ilmu ashwat (fonetik) dalam bidang Linguistik.
- Penyempurnaan
Berkaitan dengan tema-tema ilmu Tajwid yang belum diajarkan pada dua tahapan sebelumnya, seperti: hukum Alif Lam, hukum Ra, hukum Mad, Tafkhim-Tarqiq, dan sebagainya.
- Istilahat fil Qur’an
Berisikan materi berupa macam-macam waqaf, saktah, isymam, tashil, dan sebagainya.
- Materi Langgam Qiro’ah Al-Qur’an Tiga Jari
Materi langgam di dalam metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari diambil dari irama atau lagu yang digunakan saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an yang biasa disebut pula dengan nagham ((نغم yang berarti irama atau lagu.
Sebagaimana dalam (Noorhidayati et al., 2021) berkaitan dengan nagham, menurut beberapa ahli bahasa, kutipan dari Kristina Nelson, nagham memiliki arti tidak hanya satu. Sebagaimana Ibnu Faris dalam Maqāyis al-Lugah memaknai nagham sebagai “bunyi kalimat dan indahnya suara saat membaca”. Adapun Ibnu Manzur, dalam Lisan al-‘Arab, memaknai dengan “bergetar sendi-sendi sehingga hati tersentuh”. Ibnu Manzur menyimpulkan, bahwa nagham adalah lagu atau melodi. Selanjutnya, dapat dipahami bahwa nagham ibarat proses dan keindahan adalah hasil. Nagham juga dikenal menurut Isma‘il R. al-Faruqi sebagai suara vokal yang indah tunggal tanpa iringan alat musik yang digunakan khusus memperindah bacaan al-Qur’an. Beliau menyebutnya dalam tradisi kebudayaan Islam sebagai teknik suara (handasah al-ṣaut).
Berkaitan dengan macam-macam lagu atau irama yang terdapat dalam nagham Al-Qur’an, sebagaimana dalam (Muttaqin, 2021), bahwa lagu-lagu dalam nagham Al-Quran terdiri dari dua bagian, yaitu lagu pokok dan lagu cabang berikut variasinya.
Lagu Pokok terdiri dari 8 macam, yaitu: a) Lagu Bayyati (Husaini); b) Lagu Shoba (Maya); c) Lagu Hijazzi (Hijaz); d) Lagu Nahawand (Iraqi); e) Lagu Sika; f) Lagu Rasta alan nawa; g) Lagu Jiharkah; dan h) Lagu Banjaka. Sedangkan di Indonesia tidak dipakai lagu Banjaka, sehingga hanya ada 7 macam saja. Adapun macam-macam lagu cabang serta variasi yang masyhur adalah Syuri, Ajami, Mahur, Bastanjar, Kard, Kard kurd, Nakzis, Kur, Nuqrosy, Murokhab, Misri, Turki, Roml, Uraq, Usy syaq, Zanjiran, Syabir allaros dan Kurd.
Adapun perbedaan dinamika lagu-lagu tersebut, Bayyati berbentuk adagio atau gerak lambat; Syuri berbentuk lento atau gerak lambat menarik-narik; Shoba berbentuk allegro atau gerak ringan dengan cepat; Hijaz berbentuk grave atau gerak lambat dan khidmat; Rast berbentuk allegro atau gerak ringan dan cepat, dan Jiharka berbentuk allegro yaitu gerak ringan dan cepat, namun bisa juga Jiharka memakai gerak lambat dan khidmat, tergantung yang melagukannya.
Nagham atau lagu dalam Al-Qur’an sebagaimana metode yang diterapkan di MTs Negeri Kota Cimahi disebut dengan langgam. Langgam yang digunakan biasanya adalah langgam Bayati dengan bentuk adagio atau gerak lambat, yang terdiri dari tiga nada, yaitu nada naik, nada datar dan nada turun. Aplikasinya saat diajarkan kepada siswa-siswi diiringkan dengan penggunaan tiga jari sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
- Survey Penggunaan Metode Tahsin Al-Qur’an Tiga Jari
Sebagaimana survey yang dilaksanakan melalui skala Likert bahwa siswa-siswi sebagai responden memulai pelajaran dengan membaca Al-Qur’an setiap hari terlebih dahulu, sebanyak 97,1 persen dari 34 responden melaksanakan kegiatan ini. Hal ini mengindikasikan bahwa program keagamaan terutama membaca Al-Qur’an menjadi rutinitas harian yang dapat melatih bacaan Al-Qur’an menjadi lebih baik.
Adapun aplikasi metode tahsin Al-Qur’an tiga jari sudah mereka praktekkan sebanyak 82,3 persen dari 34 responden sesuai kemampuan, karena dalam membaca Al-Qur’an masih ada yang terbata-bata, tetapi tidak sedikit yang sudah lancar.
Untuk pemahaman secara mendalam sebanyak 50 persen responden menjawab paham terhadap metode ini dan mampu mempraktekkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa metode ini harus ditunjang latihan dan pembiasaan yang baik, tidak pernah malas untuk membaca Al-Qur’an.
Sebanyak 58,8 persen responden membenarkan bahwa pada saat upacara bendera setiap hari Senin yang dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an sudah terlaksana dengan metode ini.
Dan sebanyak 88,2 persen menjawab bahwa rasa percaya diri timbul dalam membaca Al-Qur’an setelah belajar metode tahsin Al-Qur’an tiga jari ini. Berikut grafik yang menunjukkan survey yang dilakukan oleh penulis kepada responden dari siswa-siswi MTs Negeri Kota Cimahi.
D. KESIMPULAN
Berbagai metode membaca Al-Qur’an sudah banyak dipraktekkan, hanya hasil yang diharapkan tidak seindah yang diharapkan. Perlunya bimbingan seorang guru menjadi salah satu kiat sukses dalam membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, melalui bimbingan guru dapat meningkatkan kemampuan baca seseorang. Terutama dalam masalah pelafalan huruf-huruf Hijaiyyah, karena Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf tersebut. Menguasai pelafalan huruf-huruf Hijaiyyah diperlukan agar tidak timbul banyak kesalahan dalam membaca Al-Qur’an.
Terdapat masalah berkaitan dengan pelafalan bacaan Al-Qur’an terutama berkaitan dengan penguasaan makhāriju al-hurûf sebagai salah satu kewajiban utama dalam membaca Al-Qur’an yang harus baik. Salah satu cara memperbaiki bacaan Al-Qur’an itu diantaranya melalui metode yang telah dipraktekkan di MTs Negeri Kota Cimahi, metode ini diberi nama Tahsin Al-Qur’an Metode Tiga Jari.
Melalui metode tersebut, telah terbukti mampu meningkatkan kemampuan siswa/i MTs Negeri Kota Cimahi dalam baca Al-Qur’an dengan baik. Selain itu, tercipta program kelas Tahfidz sebagai program unggulan di Madrasah, saat acara khusus maupun umum pembacaan Al-Qur’an dapat ditampilkan dengan baik melalui suara yang merdu disertai ilmu Tajwid yang benar.
Melalui artikel ini, semoga membuka cakrawala informasi bagi masyarakat bahwa metode yang baik dalam membaca Al-Qur’an dapat menjadi jalan keluar permasalahan bagi seseorang yang hendak meningkatkan kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an. Terutama untuk kemajuan generasi masa depan yang waktunya masih banyak tercurahkan untuk membaca melalui gadget baik sosial media, ebook, dan sebagainya. Adapun membaca Al-Qur’an meskipun sudah bisa melalui gadget tetapi karena cara membaca yang masih banyak kekurangan, menjadikan gen-z menjadi malas membaca Al-Qur’an. Perlunya, artikel ini dapat memberikan metode lain bagaimana agar cara baca Al-Qur’an menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Annuri, H. A. (2020). Panduan Tahsin Tilawah Al-qur’an & Ilmu Tajwid. Pustaka Al-Kautsar.
Badriah, B., Sarnoto, A. Z., Siskandar, S., & Junaidin, J. (2023). Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an Dalam Peningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa Sma Islam Dian Didaktika Depok Jawa Barat. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(5), 2743–2756. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/innovative.v3i5.5163
Hamzah, A. (2021). Metode Penelitian Kualitatif: Rekonstruksi Pemikiran Dasar Natural Research Dilengkapi Contoh, Proses, dan Hasil 6 Pendekatan Penelitian Kualitatif. CV Literasi Nusantara Abadi.
Izzan, A., & Saepudin, D. M. (2018). Metode Pembelajaran Al-Qur’an. Pustaka Aura Semeste.
Muslim. (1998). Shahih Muslim. Baitul Afkaar ad-Dauliyyah.
Muttaqin, M. K. (2021). Implementasi Pembelajaran Naghom Al-Qur’an (Studi Analisis di Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Nurul Quran Unisnu Jepara). UNISNU JEPARA.
Noorhidayati, S., Farihin, H., & Aziz, T. (2021). MELACAK SEJARAH DAN PENGGUNAAN NAGHAM ARABI DI INDONESIA. QOF, 5(1), 43–58. file:///C:/Users/User2/Downloads/3592-10633-2-PB (1).pdf
Nurtsany, R., Alam, P. R. N., Hodijah, L., & Tabroni, I. (2020). Penanganan Problematika Menghafal Al-Qur’an Bagi Santri Di Pondok Pesantren Baitul Quran Cirata. Lebah, 14(1), 14–19.
Putri, A. D., & Harfiani, R. (2022). Problematika Kegiatan Siswa Menghafal Al-Qur’an di SMP IT Al Munadi Medan. EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, 2(3), 796–806. http://jurnal.permapendis-sumut.org/index.php/edusociety/article/view/276/206
Qaromah, I. (2021). Analisis kemampuan membaca Qur’an berdasarkan tajwid pada siswa Kelas VII MTs Nahdhatul Wathan (NW) Rumbuk Lombok Timur. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/29215
Royani, A., & Mahyudin, E. (2020). Kajian Linguistik Bahasa Arab (S. Anwar (ed.); 1st ed.). Publica Institute Jakarta.
Rusyd, R. M. I. (2019). Panduan Praktis & Lengkap Tahsin, Tajwid, Tahfiz Untuk Pemula. Laksana.
Setiyani, R., Badruzzaman, N., & Muhajang, T. (2018). Pengaruh Penguasaan Ilmu Tajwid Terhadap Minat Membaca Al-Qur’an. Proceedings-Open Access Journal, 1(01), 105–110. https://repository.unpak.ac.id/tukangna/repo/file/files-20210119082014.pdf
Sholihin, M. N. (2020). Peran Ilmu Al-Ashwat dalam Pelafalan Huruf Hijaiyah (KajianTeoritik Linguistik Terapan). SALIHA: Jurnal Pendidikan & Agama Islam, 3(2), 110–127.
Sugiyono, D. (2019). Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, R&D dan Penelitian Pendidikan) (A. Nuryanto (ed.); 3rd ed.). Alfabeta.
كامل, ح. ا. (2005). الجامع فى تجويد القران الكريم. المؤسسة العربية للدراسات والنشر والتوزيع. https://books.google.co.id/books?id=QdF2QgAACAAJ

