
Oleh : Saprina Sandy S, S.Pd. | Guru Bahasa Inggris dan Wali Kelas 7B MTsN Kota Cimahi
Hari itu, di akhir bulan Agustus. Wajahnya tertunduk sedih, airmata tak tertahan akhirnya jatuh juga dari sela pelupuk matanya. Langit mendung di luar jendela nampak sedang membersamainya, seakan merasakan apa yang sedang ia rasakan.
“Aku kerja hanya untuk ibadah bu,” sambil menangis sesegukan ia luapkan amarah dalam curahan hatinya yang kudengar. Akupun ikut murka atas apa yang terjadi pada jiwa rapuh yang sedang ia rasakan.
Hari itu menjadi hari paling menyakitkan sepanjang ia bekerja. Ia tidak membutuhkan riuh tepuk tangan, tidak butuh validasi siapapun agar orang menganggapnya hebat, tidak menjual kemiskinan dengan menadahkan tangan di emperan jalanan. Perempuan paruh baya itu hanya sedang bekerja dengan tenaga yang tersisa. Namun, tempatnya bekerja tidak selalu mengelilinginya dengan orang-orang baik.
Terkadang kita mampu menasehati orang lain, tapi kita tidak pernah mampu untuk belajar menasehati diri sendiri. Sebutan binatang yang dilontarkan kepada sesama, itu sudah menjadi hal lumrah, menebar kebohongan untuk saling membenci, bahkan merendahkan sesama pun menjadi sesuatu yang mudah dilakukan jika manusia itu hilang rasa simpati juga empati dalam diri.
Hai diri, bukankah Tuhan-mu pun tak suka itu? Jika sedikit saja hatimu diselimuti rasa bangga diri yang menjadikanmu lupa diri.
Apa yang kita cari?
Gaji yang besar, sebesar apa?
Harta yang melimpah, sebanyak apa?
Pujian, validasi, riuh tepuk tangan? ingin seriuh apa? Sampai kita lupa diri.
Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” -Nabi Muhammad-
Ketika perjalanan di dunia itu sudah menemui ujungnya, semoga Allah menjadikan kita sebagai para ahli taubat. Wallahu’alam bisshawab.

