Lebih Dekat dengan Salman Alfath Fauzan, Saat SD Mimpi Jadi Ketua OSIS

Cimahi (MTsN Kota Cimahi) —  Salman Alfath Fauzan nama lengkapnya. Biasa dipanggil Salman. Siswa kelas 9D (Wali Kelas Marfuah, S.Pd.) ini kini menjabat Ketua OSIS MTsN Kota Cimahi sejak 17 Februari 2025. Ia lahir di Cimahi pada 27 November 2010. Anak bungsu yang penuh energi ini tumbuh dengan karakter yang aktif, lincah, dan selalu ingin tahu. Sejak kecil, Salman sangat suka bergerak. Hobinya bermain bola dan bersepeda menjadi cara ia menyalurkan energinya yang seolah tidak ada habisnya. Dalam keseharian, Salman dikenal sebagai anak yang tidak bisa diam dan selalu mencari sesuatu untuk dikerjakan. Sikap inilah yang kemudian banyak membentuk perjalanan kepemimpinannya.

Sejak duduk di bangku SD, ia telah menyimpan sebuah mimpi. Ingin menjadi ketua OSIS. Rupanya keinginannya itu bukan tiba-tiba muncul, namun tumbuh dari kecenderungannya untuk mencoba hal baru, mengorganisasi sesuatu, dan berada di tengah kegiatan.

“Awalnya ayah sempat tidak mengizinkan, ibu orang pertama yang mendukung penuh,” kenang Salman saat cerita awal mencalonkan jadi Ketua OSIS.

Kemauan yang kuat yang akhirnya mengantarkan Salman benar-benar terpilih menjadi Ketua OSIS, dengan perolehan suara yang mencapai lebih dari 400—jumlah tertinggi dalam pemilihan saat itu. Kemenangan tersebut menjadi salah satu momen paling mengesankan dalam hidupnya; ia pulang membawa kabar itu dengan bangga kepada kedua orang tuanya.

Menjadi ketua OSIS bukan hal mudah bagi Salman. Di awal masa jabatannya, ia sempat diremehkan oleh beberapa kakak kelas. Kemampuannya dalam berbicara di depan umum masih dinilai kurang, sehingga sebagian siswa menganggapnya kurang pas. Posisi wakil ketua—Runa, yang juga aktif sebagai ketua wanita Pramuka—sering menjadi tempatnya berdiskusi. Namun, perlahan Salman mulai belajar. Ia menyadari betul bahwa menjadi pemimpin tidak cukup hanya dengan kebaikan; harus ada ketegasan untuk menjadikan organisasi dihormati. Dari pengalaman diremehkan itulah ia belajar bahwa pemimpin harus bisa menunjukkan ketegasannya tanpa kehilangan sisi empati.

Dalam kepemimpinannya, Salman berusaha menjalankan OSIS secara profesional. Ia membuat aturan dan sistem penegakan disiplin, termasuk pemberlakuan tiga tahap Surat Peringatan (SP) untuk anggota yang melanggar. Pelanggaran ringan seperti tidak memakai atribut saat kegiatan hingga pelanggaran serius seperti pergi ke warung saat jam pelajaran mendapat penindakan sesuai prosedur. Ketegasannya ini ia jalankan bukan untuk menunjukkan kekuasaan, tetapi agar marwah OSIS tetap terjaga.

Selain menjaga disiplin, Salman aktif melahirkan berbagai program kerja. Pada bulan Ramadan, ia menggagas kegiatan unggulan berupa postingan ceramah singkat di Instagram OSIS setiap hari. Ia juga mengelola berbagai kegiatan besar seperti lomba 17 Agustus, dan terlibat dalam penyusunan ide-ide kegiatan khusus seperti peringatan Hari Batik. Di balik semua kegiatan tersebut, Salman merasa sangat terbantu oleh pembina OSIS, Ade Pawaz, S.Pd., yang dianggapnya telah memberikan bimbingan lebih dari cukup—mulai dari pendampingan kegiatan hingga membantu OSIS dalam berbagai keperluan perlombaan.

Dalam perjalanan memimpin OSIS, Salman menghadapi beragam tantangan, termasuk anggota yang perlu ditingkatkan kedisiplinannya, fenomena senioritas, hingga kadang perbedaan pendapat. Ada masa ketika ia merasa sangat jatuh, terutama saat menghadapi perbedaan pendapat tersebut. Namun dari pengalaman itulah Salman belajar memahami karakter orang, mengelola konflik, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.

Meski jadwalnya padat, Salman tetap berusaha menyeimbangkan antara tugas OSIS dan pelajaran. Ia pernah dimarahi guru karena telat mengumpulkan tugas akibat sibuk mengurus kegiatan, namun ia menganggap itu sebagai risiko dari tanggung jawab besar yang dipegangnya.
“Dari OSIS, saya belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, dan memahami dunia organisasi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar kegiatan sekolah,” terangnya.

Harapan terbesar Salman adalah menjadi pribadi yang bermanfaat. Cita-citanya di masa depan menjadi guru atau pengusaha. Hal ini menunjukkan bahwa ia ingin bekerja dengan banyak orang dan memimpin dalam ruang yang lebih luas. Pengalamannya sebagai ketua OSIS—memimpin puluhan anggota, menghadapi berbagai karakter, serta menjaga wibawa organisasi—menjadi bekal berharga untuk masa depannya. Apa pun profesi yang kelak ia pilih, pengalaman ini memberinya fondasi kuat dalam kepemimpinan, kedisiplinan, dan manajemen diri.

Salman tidak lahir sebagai pemimpin, melainkan tumbuh menjadi pemimpin dari keberanian, kegigihan, dan pengalaman jatuh bangun. Di usianya yang masih remaja, ia telah menunjukkan karakter yang matang: tegas, bertanggung jawab, dan memiliki kemauan besar untuk terus bertumbuh. Pengalamannya di OSIS inilah yang nantinya menjadi pijakan penting bagi langkahnya menapaki masa depan yang lebih luas. Sukses untuk Salman…

 

Kontributor: Deni Kurniawan As’ari       Fotografer: Salman