
Cimahi (MTsN Kota Cimahi) —Lapangan MTsN Kota Cimahi pagi itu bertransformasi menjadi panggung megah penuh warna, ketika para siswa dan guru menampilkan drama musikal bertajuk Satu Aksara, Satu Jiwa, Satu Indonesia. Pementasan ini menjadi puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa 2025, menghadirkan perpaduan indah antara seni, literasi, dan nasionalisme.
Kegiatan yang digagas oleh Gerakan Literasi Madrasah (GLM) ini diketuai oleh Yayu Wahyuni Hidayati, M.Pd., serta disutradarai dengan penuh kreativitas oleh Nessy Anugrawati, S.Pd. Sebanyak 67 siswa-siswi dan 20 guru terlibat aktif dalam pementasan ini, menjadikannya sebagai ajang kolaborasi yang menghidupkan semangat literasi di lingkungan madrasah.
Aksara yang Menyatukan Jiwa Bangsa
Pementasan dibuka dengan adegan “Aksara Bangsa” yang menggambarkan makna literasi sebagai dasar peradaban. Suara narator mengalun diiringi musik kacapi dan biola lembut, menghadirkan suasana reflektif.
“Dulu bangsa ini berdiri karena keberanian, kini bangsa ini berdiri karena pengetahuan,”
demikian narasi pembuka yang langsung menggetarkan suasana.
Adegan berikutnya membawa penonton ke tahun 1928 — masa di mana para pemuda dari berbagai daerah mengucap ikrar suci Sumpah Pemuda. Dialog yang ringan, penuh humor khas pelajar, menggambarkan keberagaman suku dan bahasa di Nusantara, namun tetap mengalir dalam semangat persatuan.
Harmoni Angklung dan Puisi Literasi
Kemeriahan berlanjut dengan penampilan *tim angklung dan paduan suara guru-siswa yang membawakan lagu “Manuk Dadali” dan “Bangun Pemudi Pemuda”. Irama angklung yang dibawakan oleh anak-anak 7J serta dipandu oleh Reni Anggraeni, S.Pd dan Desta Permana, S.Sn. berpadu dengan nyanyian penuh semangat, menciptakan harmoni kendang, gitar dan perkusi antara kebanggaan lokal Sunda dan semangat nasional Indonesia.
Sementara itu, tiga siswi tampil membacakan puisi bertajuk “Aksara Persatuan” dengan ekspresi yang menyentuh.
“Dalam tiap aksara ada jiwa, dalam tiap kata ada bangsa,”
menjadi pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jiwa persatuan yang harus dijaga.
Madrasah Literat, Indonesia Bermartabat
Dalam adegan “Literasi Adalah Cahaya”, para guru dan siswa menggambarkan semangat zaman kini yang tidak lagi mengangkat bambu runcing, melainkan pena dan pikiran. Dialog interaktif dan pantun spontan antara guru dan siswa membuat penonton tersenyum, namun tetap menangkap pesan mendalam: *literasi adalah bentuk perjuangan modern.
Menjelang akhir, seluruh peserta dan penonton menyerukan ikrar bersama:
“Kami generasi madrasah, bersumpah menjaga bahasa, budaya, dan persatuan!
Satu Aksara! Satu Jiwa! Satu Indonesia!”
Sorak dan tepuk tangan panjang mengiringi penutupan dengan lagu “Tanah Airku” yang dinyanyikan serempak oleh guru, siswa, dan tamu undangan. Bendera merah putih berkibar di tangan para penari di karpet merah—simbol cinta tanah air yang tak lekang oleh waktu.
Semangat yang Menyala dari Madrasah
Dalam sambutannya, Kepala MTsN Kota Cimahi, Rubaitun, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi para guru dan siswa.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa madrasah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat kreativitas, budaya, dan literasi. Anak-anak kita telah menunjukkan bahwa bahasa dan seni dapat menjadi jembatan persatuan bangsa,” ujarnya bangga.
Sementara itu, Yayu Wahyuni Hidayati, M.Pd., Ketua GLM, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menumbuhkan semangat membaca, menulis, dan berkarya di kalangan pelajar.
“Literasi bukan hanya kemampuan, tetapi karakter. Melalui karya ini, kami ingin menanamkan nilai cinta bahasa, budaya, dan bangsa,” tuturnya.
Sang sutradara, Nessy Anugrawati, S.Pd., menambahkan bahwa setiap proses latihan adalah perjalanan belajar tentang disiplin, kolaborasi, dan semangat kebangsaan.
“Dulu para pemuda bersumpah dengan kata, kini para siswa bersumpah melalui karya. Semoga semangat ini menjadi inspirasi bagi madrasah lainnya,” ujarnya.
Drama musikal ini menjadi bukti bahwa literasi dan seni dapat menyatu dalam pendidikan karakter bangsa. Dari madrasah, lahir generasi yang menulis dengan hati, membaca dengan jiwa, dan berkarya dengan cinta — generasi yang menjaga bara Sumpah Pemuda tetap menyala terang bagi Indonesia.
Kontributor : Nessy Anugrawati | Fotografer : Panitia

